PARIS FASHION WEEK AW 2017/2018

PARIS FASHION WEEK AW 2017/2018

Sunday, June 3, 2012

FASHION REPORT: REGENERASI FASHION. ARTIKEL FASHION ADI SURANTHA DI COSMOPOLITAN INDONESIA EDISI JUNI 2012. ENJOY LADIES!


THE FUTURE OF FASHION
Fashion, gaya hidup dan penikmatnya saling mempengaruhi, maka regenerasi kreator fashion pun dibutuhkan.

Ladies, jika kita melihat butik-butik label fashion di beberapa pusat perbelanjaan berdiri megah seperti Christian Dior atau Louis Vuitton tentu label fashion tersebut sudah mengalami perjalanan bisnis yang panjang di sejarah fashion. Beberapa label masih tetap berdiri walau sudah melewati waktu lebih dari satu abad lamanya. Kehadiran desainer fashion baik pendiri dari label atas namanya sendiri atau penerusnya memiliki peranan yang sangat penting. Industri fashion juga membutuhkan regenerasi desainer untuk membawa rumah mode tetap eksis mengisi gaya hidup individu dari generasi baru. Contohnya saja saat Christian Dior wafat pada 24 Oktober 1957, asistennya Yves Saint Laurent pun naik ke  singgasana  label asal Paris itu untuk menggantikan sang kreator sebagai creative director baru. Dia pun menjadi bunga baru di dunia fashion, dielu-elukan kalangan fashion dan penikmatnya. Memasuki era baru, tahun 1996 desainer John Galliano pun hadir membawa label ini ke puncak keemasannya.

Anda pun boleh bangga bisa mengenakan tweed jacket yang ikonik dari Chanel kreasi desainernya sekarang Karl Lagerfeld. Padahal jaket itu adalah ide dari desainer pendirinya Gabrielle “Coco” Bonheur Chanel di tahun 1929, saat itu jaket kreasinya menjadi kontroversial karena mengambil inspirasi dari pakaian pria. Setelah Madame Chanel meninggal pada tahun 1971, baru pada 1983 Karl Lagerfeld membawa pembaruan bagi ragam koleksi ikonik Chanel agar banyak generasi bisa menikmatinya. Saat Gianni Versace ditembak mati di depan rumahnya di Miami pada 1997 adik kandungnya Donatella Versace meneruskan label tersebut hingga sekarang. Saat baroque prints yang marak di era Gianni Versace awal 90an, sekarang pun Anda bisa merasakan tren itu kembali namun dari hasil kreasi adiknya dengan style dan selera masa kini. Begitu pun dengan label Paris yang ternama dengan koleksi leather goods-nya Louis Vuitton yang berdiri sejak 1854, sejak desainer asal Amerika Marc Jacobs bergabung sebagai kepala kreatif pada 1997, label ini menjadi label yang ternama tak hanya koleksi aksesori saja namun juga koleksi busana siap pakainya. Tas Louis Vuitton yang ikonik bernama Alma yang pertama dilansir tahun 50an, di 2011 kembali hadir “menjelma” menjadi Alma generasi baru yang memilki sentuhan inovasi desain dan material.

Regenerasi desainer fashion tersebut terus berkelanjutan dan terjadi pada label-label lainnya. Sebagai penerus, desainer yang dicontohkan di atas terus berpegang teguh pada signature style rumah mode yang mereka tangani. Beberapa ciri khas desain setiap label dieksplorasi oleh setiap desainer kini dengan twist gaya dan inovasi yang relevan dengan tren, selera, gaya hidup dan market sekarang. Identitas gaya seperti elegansi, feminin atau avant-garde yang diusung oleh pendirinya tetap konsisten namun dengan nuansa baru dan segar yang bisa merangsang penikmat fashion sekarang untuk membeli dan mengenakannya. Tentunya juga berbagai strategi bisnis dan pencitraan label berjalan beriringan bersama inovasi yang -diharapkan- selalu ada pada desainer penerusnya. Jika tidak banyak beberapa desainer dan label fashion yang legendaris di eranya namun berguguran satu per satu karena energi kreativitasnya tidak lagi kuat atau mampu bersaing di era fashion kini yang desainer baru berpotensial juga semakin deras bermunculan. Oleh sebab itu rumah mode lawas dan kebutuhan regenerasi desainer sebaiknya dipraktikan agar tetap sukses secara desain dan bisnis. Sehingga rumah mode tersebut pun bisa berkontribusi pada perkembangan fashion dan terus tercatat di sejarah fashion dari berbagai lintas generasi.

A NEW DIRECTION
Beberapa label fashion berikut mendaulat desainer baru yang terbilang mampu mencatat kesuksesan membawa label tersebut terus menjadi dambaan para penikmatnya.

Celine (1945)  : Phoebe Philo
Louis Vuitton (1854) : Marc Jacobs
Gucci (1921): Tom Ford - Frida Giannini
Yves Saint Laurent (1961) : Stefano Pilati -Hedi Slimane
Lanvin (1889): Alber Elbaz
Balenciaga  (1914) : Nicolas Ghesquiere
Givenchy (1952): Ricardo Tisci
Burberry (1856): Christopher Bailey
Bottega Veneta (1966): Tomas Maier
Alexander McQueen (1992): Sarah Burton
Balmain (1945): Christophe Decarnin
Mugler (1973): Nicola Formicheti











No comments:

Post a Comment