Sunday, August 31, 2014

FASHION WEEK REPORT: NEW YORK FASHION WEEK FALL WINTER 2014/2015 AT HARPER'S BAZAAR INDONESIA SEPTEMBER ISSUE 2014 BY ADI SURANTHA


 Vava Voom, America!
Desainer New York membawa tren lebih berani melalui koleksi yang individual dan mencuri perhatian.

‎Oleh, Adi Surantha.


Badai salju yang menerpa kota New York pada fashion week musim gugur dan dingin 2014/2015, new York membuka pekan mode musim ini dengan penuh semangat. Bazaar turut hadir pada February  lalu, walau  ditemani dengan musim dingin yang menusuk, fashion blogger ternama seperti Regiane Hosokawa dari situs  Gary Pepper Girl dan Leandra Medine dari Man Repeller tetap berpose di hadapan banyak fotografer street style di depan Lincoln Centre.

Pagi yang kelabu pada peragaan Tory Burch, seketika membuat langit New York‎ kembali cerah. Desainer yang baru membangun labelnya satu dekade lalu itu membuka wajah fashion Amerika kembali menggebu. Koleksi siap pakai Tory Burch memiliki unsur konseptual yang kental, membawa kisah historis ke kancah gaya hidup Amerika yang modern. Sungguh mengejutkan.

Melihat koleksi label Amerika lainnya, mulai dari barisan desainer senior ternama, hingga label-label yang jadi incaran para hipster‎, New York pun kembali memberi kejutan. Jika koleki simple dan sporty selalu diidentikan dengan tren di New York, kini prediksi itu dipatahkan oleh banyak para desainer  barunya. Tren New York kini lebih agresif melalui aksi gaya yang beragam.

Hal itu dibuktikan oleh Alexander Wang yang tampil memukau dengan gaya sporty melalui jaket penuh warna. Ya, colorful untuk gaya di musim dingin. Mungkin,jarang kita temui cara pakai busana selain hitam di musim ini, tapi desainer yang namanya memuncak semenjak mengomandani Balenciaga ini mengubah pakem itu.  Desainer berdarah Taiwan ini mencoba ragam busana musim dingin berpotongan tailored, detail cut out, dan volume dengan kemasan yang powerful.

Rodarte dan Altuzarra lain lagi, keduanya melansir ragam koleksi dengan siluet yang simple namun memiliki energi baru melalui detail yang berani. Rodarte mencoba detail sulaman‎, kombinasi material dan nuansa metalik pada atasan, terusan hingga coat musim dinginnya. Sedangkan Altuzarra,‎ mencoba bermain garis dengan kombinasi warna neon mencolok‎ yang ditempatkan pada beberapa bagian koleksinya. Ada sisi wearable tapi mencuri perhatian dari kedua desainer ini.

Sedangkan pemenang untuk kota big apple diraih oleh Proenza Schouler, koleksinya memberikan energi baru bagi era modern fashion. Banyak aksi eksperimental hadir dengan energi baru yang fun, muda dan flashy! Contohnya permainan siluet volume, paduan warna, dan material yang berani yang membuat tangan para hipster masa kini mengangkat iPhone-nya untuk merekam look favoritnya.  Desainer ini juga semakin serius melansir koleksi tas dan sepatunya, beberapa koleksi aksesori siap berkompetisi dengan label-label Italia. Tas kulit structured berukuran mediumnya, siap digenggam di tangan banyak penggemar mode kekinian.

Thom Brown hadir lebih teatrikal, dengan koleksi bernuansa tailored yang maksimalis, yang terinpirasi dari tata busana Gereja. Koleksi jaket dengan siluet oversized berkat undergarment yang memukau membuat para kolektor busana extraordinary melirik tajam.

Untuk generasi senior, seperti label Marc Jacobs, Calvin Klein, Michael Kors dan Diane von Fursternberg, pilihan koleksi bergaris soft, clean pada material atau corak sekalipun tetap mencuri perhatian. Contohnya saja koleksi Calvin Klein Collection yang hadir melalui eksplorasi Material wol yang delicate. Eksplorasi itu pun semakin ekspresif, melalui penempatan color blocking di bagian yang tidak biasa, tanpa mengorbankan DNA label ini yang minimalis. Marc Jacobs sendiri‎, setelah menanggalkan selempang desainer Louis Vuitton-nya membawa kita pada kemewahan dengan cara sederhana. Pilihan desainnya yang soft yang dibumbui oleh alur garis Yang beda, tetap membawa pemakai busananya tampil individual dan sophisticated.

Menelusuri kiprah perancang yang berbasis di New York, kota Big Apple ingin menunjukan sisi eksperimennya dengan cara yang modern. Tidak perlu dengan ragam desain extravaganza, New York hanya ingin merujuk kalangan muda trendy untuk menjadi pelanggan barunya. Karena tidak bisa dipungkiri, generasi tersebut kini menjadi pembeli potensial yang konsumtif, dan juga tentunya menjadi role model banyak penggemar mode baru.










FASHION WEEK REPORT : FALL WINTER 2014/2015 WOMEN'S WEAR READY-TO-WEAR AT COSMOPOLITAN INDONESIA SEPTEMBER 2014 ISSUE BY ADI SURANTHA.

 NEW YORK
New York membuka fashion week musim gugur dan dingin 2014/2015 di minggu pertama. Jika koleki simple dan sporty selalu diidentikan dengan tren di New York, kini prediksi itu dipatahkan oleh banyak para desainer  barunya. Tren New York kini lebih agresif melalui aksi gaya yang beragam. Contohnya saja koleksi Alexander Wang yang tampil memukau dengan gaya sporty melalui jaket penuh warna, dan kemasan yang powerful. Rodarte dan Altuzarra lain lagi, dirinya melansir ragam koleksi dengan siluet yang simple namun memiliki energi baru melalui detail yang berani. Sedangkan pemenang untuk kota big apple diraih oleh Proenza Schouler, koleksinya memberikan energi baru bagi era modern fashion. Banyak aksi eksperimental hadir dengan energi baru yang fun, muda dan flashy! Contohnya permainan siluet volume, paduan warna dan material yang berani yang membuat tangan para hipster masa kini mengangkat iPhone-nya untuk merekam look favoritnya.  Thom Brown hadir lebih teatrikal, dengan koleksi bernuansa tailored yang maksimalis, yang terinpirasi dari tata busana gereja, so lovely! Untuk generasi senior, seperti label Marc Jacobs, Calvin Klein, Michael Kors dan Diane von Fursternberg, pilihan koleksi bergaris soft, clean pada material atau corak sekalipun.

LONDON
London musim ini tampil dengan sangat individual melalui pilihan siluet klasik. Namun potongan sederhana itu terlihat sangat personal bagi setiap desainer London yang terkenal edgy! Contohnya saja dengan aksi Mary Katrantzou yang hadir dengan siluet clean namun dengan aplikasi detail, motif dan embellishment yang baru lagi. Mary mencoba detail quirky yang fun pada detail bagian depan di sebuah gaun pendek. Lain lagi dengan Tom Ford dan Christopher Bailey untuk Burberry Prorsum, kedua brand ini mencoba pilihan gaun hitam glamor yang clean dan trench coat klasik dengan pulasan lukisan bunga yang lembut. Saat supermodel Stella Tenant berbalut gaun hitam hasil gabungan dua desain berbeda di show Tom Ford, cerminan klasik yang baru menyeruak. Kecerdasan desainer London juga tercermin melalui opsi teknik potong dan material. Hal itu ada pada Christopher Kane yang hadir dengan nuansa adrogyny, dan aplikasi detail patchwork yang dikemas dalam nuansa futuris. Sedangkan J.W Anderson hadir dengan beragam permainan potongan extraordinary pada potongan mini dan panjang berpola asimetris . Catatan pernting J.W Anderson menggarap material organik yang totalitas melalui pewarnaan soft dan elegan.

 MILAN
Jika Anda ingin menjadi style icon yang selalu menjadi atensi banyak orang, koleksi desainer di fashion week di Milan boleh jadi andalan. Menjadi trendsetter merupakan reputasi yang terus bertahan bagi Milan dengan koleksinya yang kaya warna, tekstur, dan penuh statement. Musim ini banyak desainer tampil semarak dengan warna, mulai dari fur jaket atau embellishment skirt dengan presentasi dua ragam gaya elegan dan sporty. Tiga label Prada, Fendi dan Marni diramalkan akan menjadi koleksi incaran para fashionista. Saat mengenakan koleksi mereka dipastikan banyak yang akan tampil bak “Anna Dello Russo generasi baru” dengan parade statement pieces yang sangat mencuri mata. Koleksi jaket, coat, rok atau celana, sepatu, dan tas-tasnya dengan desain extraordinary yang menjadi pembicaraan generasi muda masa kini. Kreasi sporty dengan sentuhan elegan juga muncul pada kreasi Jeremy Scoot untuk Moschino yang koleksi tasnya jadi antrean penggemar mode. Sedangkan pemain lama seperti Versace dan Gucci, rangkaian gaun dan coat musim dinginnnya hadir dengan potongan klasik yang elegan. Konseptual juga merupakan ide presentasi koleksi busana, mulai dari set panggung peragaan bernuansa hutan Dolce & Gabbana dan panggung lingkaran api pada Roberto Cavalli. Satu kata dari tren Milan dan saat Anda mengenakan koleksinya: Unforgettable!

PARIS
Menutup fashion week, Paris memiliki angin pembaruan mode paling segar. Desainer Nicolas Ghesquiere menjadi buah bibir dalam sepekan berkat debut pertamanya untuk Louis Vuitton. Label yang selama 14 tahun dikomandani oleh Marc Jacobs itu, kini menawarkan cita rasa baru di bawah arahan Nicolas, lebih hip dan muda! Terusan dan luaran, hadir dengan detail patchwork pada material kulit, dan seri trunk Louis Vuitton yang ikonis pun jadi satchel bag mini yang mencuri hati. Ya, bicara soal pembaruan, pekan mode di Paris menggaungkan kreasi mewah dalam simplisitas. Mode inggil yang menjadi kelebihannya, musim ini tak lagi dengan detail embellishment yang dekoratif atau kreasi extravaganza, namun melalui craftmanship berpotongan clean dan inovatif. Kreativitas dengan level tinggi ala mode Paris disajikan melalui pilihan material dengan pengolahan istimewa seperti wol atau knitwear. Potongan tailored dengan twist segar dan inspiratif juga terjadi pada beberapa label sekelas Christian Dior, Balenciaga, Saint Laurent, dan Givenchy. Beberapa talenta baru sebagai kepala kreatif rumah mode legendaris, disinyalir sebagai tim sukses di balik gemuruh tren itu.  Raf Simons meluncurkan gaun bervolume hitam dengan potongan low V-neck yang sophisticated, atau Alexander Wang dengan sweater kombinasi material yang dibawakan oleh supermodel Gissele Bundchen. Siapa yang mampu untuk menolak gaung tren tersebut? Seperti kencangnya tepuk tangan generasi baru penikmat mode pada tas-tas lansiran Saint Laurent rancangan Hedi Slimane, jaket Karl Lagerfeld untuk Chanel, atau terusan Celine, Lanvin dan Valentino. Setiap label bersaing ketat dalam nuansa inovatif, simplisitas, dan tentunya chic yang jadi ciri khas Paris.


Saturday, August 30, 2014

HARPER'S BAZAAR INDONESIA AUGUST 2014. BAZAAR SOCIETY. KEBAYA BY ADI SURANTHA
















COSMOPOLITAN INDONESIA MAGAZINE. AUGUST 2014 ISSUE BY ADI SURANTHA

 TRIBAL ROOTS.
Bulan Agustus ini, Cosmo mengeksplorasi gaya tribal yang modern melalui inspirasi Indonesia baik material, detail hingga padanannya.
Fashion Stylist: Adi Surantha.
Fotografer : Shadtoto Prasetio
TRIBAL SOLDIER.
Tampil outstanding dengan terusan berdetail Sumba yang hadir dengan tekni bordir dan potongan clean.
Terusan, Biyan; Gelang, milik stylist.


ECLECTIC SESSION.
Tampil cantik dengan nuansa eklektik yang ketal melalui atasan dekoratif. Pilih sapuan cokelat yang natural untuk tampil maksimal.
Atasan dan rok, Biyan; Gelang, Marni.

Jaket dan dress, ISIS. Kalung, Biyan.

Atasan dan rok, Priyo Okatviano. Sepatu, Biyan. Gelang, Marni koleksi Adi Surantha.

Atasan dan rok, Priyo Okatviano. Sepatu, Biyan. Gelang, Marni koleksi Adi Surantha.


Jaket dan Clena, Purana. Bra, Aqua de Alma. Kalung, Biyan. Gelang India Koleksi Adi Surantha.

RELEASE THE GODDESS
Semarakan nuansa tribal dengan sentuhan sexy, melalui pilihan tube top dan rok maksi bermaterial tenun dalam warna cerah.
Atasan, Priyo Okatviano Couture; Rok, Ikat Indonesia; Kalung, Biyan; Gelang, Mango.

STRIPES GONE WILD.
Kain tenun berpola garis tampil modern dan mencuri perhatian dengan potongan half top dan aksen fringe pada potongan bawah.
Atasan, Yogie Pratama; Bikini, Agua de Alma; Gelang, Mango.

GOLDEN GIRL.
Material tenun tapis bisa hadir lebih glamor dengan kreasi bernuansa emas dan merah yang memukau.
Halter top, Priyo Oktaviano Couture; Rok songket, Ghea Fashion Studio; Gelang, Marni.


Jaket, Ari Seputra. Bra, Aqua de Alma. Rok, Purana. Kalung antik, koleksi Adi Surantha 
IN THE TRIBE.
Luaran dengan ornamen dekoratif membuat aksi tribal tampil mewah dan maksimal. Padankan dengan celana pendek untuk membuatnya lebih chic.
Coat dan celana, Biyan.

L'OFFICIEL INDONESIA MAGAZINE AUGUST 2014 ISSUE BY ADI SURANTHA. THE GRAND BUDAPEST HOTEL.