Monday, November 23, 2015

SEBASTIAN GUNAWAN 2016 A MIDSUMMER NIGHTS DREAM

PESTA SELAMANYA!

Pesta selamanya! Merupakan kata yang bisa saya katakan untuk koleksi Sebastian Gunawan 2015 terbarunya. Acara ini digelar minggu lalu bersama Asia Couture Federation, organisasi haute couture-fashion khusus Asia yang sedang mengadakan acaranya di Jakarta sepanjang minggu lalu. Lokasi acara di Ciputra Artpreneur hadir dengan dekorasi taman penuh bunga yang romantis, dan dibuka dengan lagu Mariah Carey yang membawa undangan menyelam dalam A Midsummer Night's Dream, tajuk peragaan ini.

Koleksi gaun malam hingga jumpsuit hadir untuk mewarnai gaya berpesta khas Seba, panggilan akrab sang desainer. Icon mode di akhir abad 17 Marie Antoinette dan elegansi mode 50an jadi inspirasi koleksi haute couture Sebastian Gunawan dan Christina Panarese. Gaya eropa yang jadi poros gaya rancang Seba tetap hadir dengan ekperimen di beberapa detail dan siluet, ini kali era mode Rococo bergaung kuat. Yang mencuri perhatian show malam itu,  gaya extravagance  ratu Perancis yang dipenggal Guillotine itu dengan pinggang bervolume dua sisi pada gaun panjang dan midi, saya seperti sedang melihatnya di lukisan-lukisan Versailles Palace, Paris. Lalu "penampakan" baru apa yang  ditawarkan Seba untuk koleksi haute couture-nya?

Gaun dengan detail cut-out pada bagian dada digabungkan detail siluet ball gown yang mampu membius setiap orang yang melihatnya. Begitupun dengan detail 3-D pada bagian dada dan pinggul berpulas silver, keduanya memamerkan kulit, sexy namun dramatis. Ekspresi volume pada tekuk dan peplum yang jadi andalan Seba hadir pada bagian pinggang dan bokong yang hadir maksimalis. Dia menggandakan peplum skala lebar dan bertumpuk pada dua sisi pinggang pada gaun midi pas badan, mermaid dress,  glamoritas 50an yang ekspresif. Era mode itu juga tercermin dari banyak potongan trapeze pada jumpsuit hingga gaun panjang, atau juga beragam detail gelepai pada potongan atasan tube. Big-ruflles maksimal yang juga bersliweran pada gaun midi, dia tak ragu untuk memamerkan di bagian samping, dan depan gaun. gaun-gaun itu semua hadir dalam material mumpuni seputar, jacquard, organza-lace,satine duchess, shantung, silk, bulu yang diselimuti ragam efek shimmering dan taburan kristal. Semua hadir dalam sapuan pastel lembut dan berefek mengilap, mengingatkan saya pada nuansa cahaya yang begitu diagungkan di masa pencerahan atau enlightement era khas Raja Louis XIV.

Salah satu kekhasan haute couture yang membebaskan ekspresi dalam berkreasi hadir pada koleksi Seba, diikuti dengan beberapa material, dan detail kelas wahid. Seba pun mengungkapkan kemegahan pada ciri khasnya yang sudah terbangun yaitu extravagance yang tetap ada pada jalurnya, extreme namun cantik. 
Pesta selamanya yang seperti saya sebutkan di awal, tak akan pernah habis di Indonesia, baik gelaran, konsumen, hingga kreator modenya. Namun coba renungkan, berapa desainer yang bisnisnya bertahan seperti Seba?
 
Adi Surantha.

Tuesday, November 17, 2015

CHOSSY LATU FOR DANAR HADI

CHOSSY KINI.

Chossy Latu  memulai kariernya di era mode 80an, namanya bergaung saat berkerja pada Iwan Tirta, dan memulai labelnya sendiri dengan kreasi gaun pesta made-to-order. Beberapa tahun belakangan juga disibukan dengan pesanan seragam dari beberapa perusahaan ternama. Terakhir menggelar peragaan tunggal di 2006 dengan koleksi bertajuk Regalia, dan aktif melasir koleksi kolaborasi dengan beberapa komunitas dan label fashion. Peragaan koleksi terbaru Chossy ada di Jakarta fashion Week 2016, berkolaborasi dengan label ritel ternama yang memproduksi batik Danar Hadi, dengan tema Solometrik. Kreasi batik Solo, kota asal Danar Hadi dengan corak floral dan palet cerah. Koleksi hadir dengan nuansa hitam-putih, semburat kuning, merah, dan biru. Acara ini juga bersama Yayasan Jantung Indonesia, yang dibuka dengan peragaan beberapa wanita dari komunitas itu bersama anak-cucu mereka. 
Koleksi hadir dengan rok pensil dan blazer berpotongan boxy, A-line dress dengan pea coat berlengan sebatas sikut, blus panjang sutera yang dipadankan dengan celana pendek, atasan siluet trapeze, hingga sleeveless top berompi. Koleksi ini dibawakan model dengan tambahan topi lebar dan korsase bunga artifisial dengan ukuran maksimal. Melihat koleksi ini saya seperti terlempar di era 90an. Walau saya tidak hidup keriaan di era itu, saya teringat waktu melihat gaya rancangnya di halaman majalah tante saya saat itu. Di sekuen akhir rok gala dipadankan dengan bustier, terusan sutera batik berpotongan loose dengan aplikasi bulu, hingga padananan bawahan sequins. Hal yang sering Chossy lakukan di peragaan sebelumnya, tahun lalu, atau tahun lalu, dan tahun lalu sekali di beberapa peragaannya. Tidak ada yang baru dari tangan Chossy, koleksi ini layaknya pengulangan sebuah presentasi busana,  tidak memperkenalkan gaya baru. Hanya materialnya saja yang baru, dari garis desain hingga tatanan gaya, Chossy seperti memiliki kreativitas yang jalan di tempat. Dirinya memiliki dunianya sendiri, tidak memahami definisi fashion itu sendiri yang menuntut hal baru, atau setidaknya dirinya sedikit saja "bermain" dari tren fashion global yang begitu mudah dilihat, dan diakses di masa kini. 

Saat saya bertemu dengan Chossy setelah show, saya menyapanya, dan bertanya soal akun social media miliknya. Saya ingin tahu produktivitas Chossy saat ini, terakhir saya ke studio dan mewawancarainya lima tahun lalu. Dirinya mengatakan tidak punya. Saya pun berpikir seorang legenda mode Karl Lagerfeld yang masih hidup di masa kini yang memiliki akun social media, walau mungkin dikelola dengan timnya. Dari situ saya bisa tahu inspirasi hingga visinya. Namun, untuk hal ini membuat saya berpikir bahwa Chossy tidak memiliki kepedulian bagi dirinya, juga industri mode tanah air. Sebagai seorang desainer senior,  Chossy seharusnya berkontribusi untuk menjadi teladan bagi yang junior yang kini  banyak berjuang membangun labelnya.  Atau setidaknya ada inspirasi yang bisa dibagi melalui karyanya dalam menggarap koleksi, dan batik yang merupakan tantangan membuat elemen berdaya pakai dan selera masa kini. 

Padahal kemampuan tailor-cut Chossy yang dikenal prima, bisa dieksplorasi pada potongan mode masa kini. Banyak nuansa tailored yang jadi tren global, dan digarap desainer muda internasional dan jadi idaman. Hal itu bisa dijadikan kekuatan Chossy dalam mengembangkan kreasi item busananya. Semangat glamoritas yang ada pada diri Chossy pun, mampu diintepretasikan pada kelebihannya dalam menggarap busana berpotongan sharp tersebut. Tapi, Jika Chossy tidak lagi memiliki energi untuk itu, dirinya bisa merangkul desainer muda untuk berjalan bersamanya. 

Adi Surantha.